7 Aspek untuk Membedah Puisi (tugas kelompok)
Setelah membaca dan membentuk kesan umum dari kelima puisi Acep Zamzam Noor, Anda akan masuk ke tahap apresiasi. Untuk apresiasi puisi secara lebih mendalam, Anda bisa menggunakan tujuh aspek berikut ini. Agar lebih mudah mengapresiasi, setiap aspek akan dipandu beberapa pertanyaan.
Berdasarkan 7 aspek di bawah ini, buatlah analisis mengenai puisi Acep.
1. Tema
- Menurut Anda, puisi tersebut mengandung tema apa? Jelaskan tema yang terdapat di dalam puisi itu
- Jelaskan pesan atau ide yang dinyatakan dalam puisi melalui tafsir Anda sebagai pembaca
- Bagaimana ide-ide diorganisasikan dalam puisi? Apakah berkembang secara langsung menuju kesimpulan?
2. Subjek lirik (pembicara di dalam puisi)
- Siapa pembicara di dalam puisi?
- Bagaimana nada bicara subjek lirik?
- Siapa yang diajak bicara di dalam puisi? Bagaimana sikap subjek lirik terhadap orang/sesuatu yang diajak bicara di dalam puisi?
3. Suasana
- Setelah membaca puisi, suasana seperti apa yang tergambar di dalam puisi?
- Menurut Anda, dalam suasana seperti apa puisi ini dibuat oleh penyair?
- Sebutkan kata-kata/kalimat di dalam puisi yang mengungkapkan secara kuat latar suasana di dalam puisi
4. Bentuk dan struktur
- Apakah puisi Acep mengikuti bentuk puisi lama yang terikat pada bentuk rima dan bait (seperti pantun, syair, soneta, dll)? Kalau tidak, jelaskan?
- Apakah kelima puisi Acep berbentuk naratif?
- Adakah puisi Acep yang tidak berbentuk naratif?
5. Bunyi
- Adakah permainan bunyi rima akhir di dalam puisi Acep? Jika ada, jelaskan
- Apakah Acep menggunakan permainan aliterasi dan asonansi di dalam puisinya? Jika ada sebutkan baris puisinya
6. Peranti puitik (alat kebahasaan)
- Apakah Acep menggunakan imaji (penglihatan, perabaan, gerak, penciuman, pengecap) di dalam puisi? Jika ada sebutkan
- Apakah Acep menggunakan majas simile, personifikasi, dan metafora di dalam puisinya? Jika benar, sebutkan baris mana saja
- Apakah penggunaan peranti puitik berpengaruh di dalam puisi Acep?
7. Diksi (pilihan kata)
- Apakah puisi Acep cenderung menggunakan jenis bahasa tertentu (misalnya, bahasa sehari-hari atau formal, bahasa gaul, atau bahasa kuno)?
- Menurut Anda, bagaimana pilihan kata dalam puisi Acep?
- Adakah efek penggunaan pilihan kata tertentu dalam puisi Acep terhadap pembaca?
***
Catatan
1. Rima: permainan bunyi baik di dalam ataupun di akhir baris puisi
Contoh rima akhir dalam puisi:
Pada terik tegah har(i)
Titik perahu timbul di dana(u)
Ibu cemas ke pantai berlar(i)
Menyambut anak lama ditungg(u)
anak diam mengenang lupa(a)
Dingin Eropa musim kotany(a)
Ibu diam berhenti berkat(a)
Tiada sesal hanya gembir(a)
2. Asonansi: perulangan bunyi vokal dalam deretan kata
Contoh asonansi di dalam baris puisi:
Mantr(i) pol(i)s(i) berd(i)r(i) d(i) s(i)s(i) k(i)r(i)
3. Aliterasi: pengulangan bunyi konsonan dalam deretan kata.
Contoh aliterasi di dalam baris puisi:
(K)aulah (k)andil (k)emerlap
Pe(l)ita jende(l)a di ma(l)am ge(l)ap
4. Simile: majas/kiasan yang membandingkan dua hal yang berbeda dengan bantuan kata penghubung, misalnya, seperti, bak, bagai, bagaikan, laksana, dll. Karena itu, simile bisa disebut perbandingan yang eksplisit atau langsung.
Contoh simile dalam puisi:
- Kau yang mengendap seperti candu
- Darah dan airmataku tumpah/ Seperti timah panas yang dikucurkan ke telinga
- Aku mencair/ Bagai air/ Mengalir padamu
- Menggelinding bagai batu/ Bagai hantu
5. Metafora: majas yang membandingkan dua hal yang tidak berhubungan atau menyamakan dua hal bukan karena mereka sama, melainkan demi perbandingan atau simbolisme. Metafora membandingkan sesuatu secara langsung tanpa kata penghubung seperti simile.
Contoh metafora dalam puisi:
- Keperihanmu adalah borok bumi yang kekal
- Menyelam ke lubuk sepi
- Aku membacanya sambil minum darah bulan
6. Personifikasi: pengumpamaan benda mati sebagai orang atau manusia atau pengorangan.
Contoh personifikasi dalam puisi:
- Kubayangkan maut singgah di trotoar, duduk dan batuk-batuk
- Ketika pohon-pohon hitam berbaris mengurungku
- Langit merah padam siap menimpaku di segala penjuru
- Gelombang membakarku dengan sepinya

Komentar
Posting Komentar