Contoh Analisis Puisi
Lembah Anai
Aku mencari rambutmu
Jauh ke dalam hutan
Matamu menenungku
Dengan air terjun
Sungai adalah suara
Yang menenggelamkanku
Lembah yang tercipta
Dari kedalaman kata-kata
2003
Alam di tangan Acep menjadi puisi yang hidup. Alam tak hanya bentangan keindahan, melainkan menjadi sumber inspirasi sekaligus misteri. Sebagaimana umumnya dalam puisi Acep tentang alam, Lembah Anai termasuk puisi yang indah dan cukup berhasil karena memadukan komposisi simbol-simbol alam dengan ritmis. Tema alam sepertinya bukan tema yang sulit bagi Acep. Sebagai pembaca, bayangan kita tentang Lembah Anai menjadi luas dan berkembang sesuai dengan imajinasi yang ada di kepala kita.
Dalam puisi Lembah Anai, subyek lirik berbicara dengan “kamu/kau” yang diungkapkan dalam bait pertama, yakni baris pertama dan ketiga: “Aku mencari rambutmu/…. Matamu menenungku”. Seperti biasanya, perempuan adalah sumber inspirasi bagi puisi-puisi Acep. Meski sedang membicarakan keindahan Lembah Anai, perempuan tetap hadir di dalam baris-baris puisinya. Seolah tidak habis daya pikat perempuan sehingga membuat puisi ini lebih hidup dan imajinatif. Subyek lirik bisa kita andaikan sebagai sosok yang terpesona dengan alam melalui pengimajian “rambut” dan “mata yang menenung” dari perempuan.
Suasana yang dibangun Acep dalam puisi ini adalah suasana yang romantis dan penuh dengan cinta. Kita seakan merasakan bagaimana subyek lirik menikmati alam Lembah Anai dengan sangat mendalam. Karena itu, suasana yang tercipta dalam puisi ini semakin menguatkan diksi-diksi alam seperti hutan, air terjun, sungai, dan lembah. Dengan kata lain, penggunaan diksi alam ini memperkuat latar suasana dalam puisi.
Meskipun puisi ini bentuk dan strukturnya hanya dua bait dan terdiri dari delapan baris, sebagai pembaca kita merasakan kenikmatan estetis dari simbol-simbol alam yang dimajinasikan Acep. Struktur puisi Lembah Anai memiliki rima akhir a-b-a-b dan termasuk jenis puisi bebas.
Permainan rima akhir dalam puisi ini bukan untuk memperkuat bunyi vokal dan konsonan u-n-u-n atau a-u-a-u, melainkan tampaknya sebagai pemanis saja. Pasalnya, puisi ini, jika dibentuk ke seperti kalimat utuh, terdiri dari dua bait dan empat baris:
Aku mencari rambutmu/Jauh ke dalam hutan
Matamu menenungku/Dengan air terjun
Sungai adalah suara/Yang menenggelamkanku
Lembah yang tercipta/Dari kedalaman kata-kata
Akan tetapi, kekayaan puisi ini justru terletak pada penggunaan peranti puitik seperti metafora dalam setiap baris puisi. Misalnya, subyek lirik yang mencari sosok perempuan dengan pengandaian rambut yang terdapat di dalam hutan. Atau bagaimana mata seorang perempuan meramal menggunakan air terjun. Selain itu, sungai bukan diartikan harfiah, melainkan suara yang bisa menenggelamkan subyek lirik. Inilah kalimat-kalimat metaforis yang membuat puisi Acep indah dan memberikan banyak tafsir kepada pembaca.
Efek penggunaan kata-kata dalam puisi Acep membuat pembaca seperti berada di tengah-tengah alam dengan segala keindahannya. Pilihan diksi dalam puisi Acep memang lebih sering menggunakan simbol-simbol alam dan sosok perempuan, sehingga kesan romantis, kerinduan, dan kecintaannya terhadap alam tergambar dengan kuat.

Komentar
Posting Komentar