Postingan

Analisis puisi Lagu Malam Braga

Gambar
Sunyi yang kusimpan Dalam tungku perasaan Kini jadi api. Jalanan menyala Lampu-lampu menawarkan khuldi Deru kendaraan yang sesekali Keloneng becak Bagai gumam yang dingin. Deretan pintu Dan barisan tiang listrik yang bisu Ada yang tak mampu kubeli Dengan seluruh ketelanjangan Tapi ada yang harus kudaki, harus kusetubuhi Hakikat sunyi. Malam lindap di bawah bulan 1984 Braga adalah sebuah jalan di Kota Bandung, namun bagi penulis Braga adalah suatu tempat di mana ia merasakan cinta dan kesepian. Maka dari itu, tema dari puisi ini adalah cinta. Walaupun begitu, cinta yang ia rasakan disertai dengan rasa kerinduan. Puisi karangan Acep ini sangat singkat dan langsung menuju kesimpulan, yaitu perasaan mendalam terhadap seseorang yang dekat dengan pembicara. Puisi yang dikarang oleh Acep membicarakan subyek lirik yang sedang sedih. Nada bicaranya seperti orang yang kesepian. Si subyek lirik mengajak bicara dirinya sendiri (ia mengekspresikan perasaannya seakan-akan u...

Contoh Analisis Puisi

Gambar
Lembah Anai Aku mencari rambutmu Jauh ke dalam hutan Matamu menenungku Dengan air terjun Sungai adalah suara Yang menenggelamkanku Lembah yang tercipta Dari kedalaman kata-kata 2003 Alam di tangan Acep menjadi puisi yang hidup. Alam tak hanya bentangan keindahan, melainkan menjadi sumber inspirasi sekaligus misteri. Sebagaimana umumnya dalam puisi Acep tentang alam, Lembah Anai termasuk puisi yang indah dan cukup berhasil karena memadukan komposisi simbol-simbol alam dengan ritmis. Tema alam sepertinya bukan tema yang sulit bagi Acep. Sebagai pembaca, bayangan kita tentang Lembah Anai menjadi luas dan berkembang sesuai dengan imajinasi yang ada di kepala kita. Dalam puisi Lembah Anai, subyek lirik berbicara dengan “kamu/kau” yang diungkapkan dalam bait pertama, yakni baris pertama dan ketiga: “Aku mencari rambutmu/…. Matamu menenungku”. Seperti biasanya, perempuan adalah sumber inspirasi bagi puisi-puisi Acep. Meski sedang membicarakan keindahan Lembah Anai, peremp...

7 Aspek untuk Membedah Puisi (tugas kelompok)

Gambar
Setelah membaca dan membentuk kesan umum dari kelima puisi Acep Zamzam Noor, Anda akan masuk ke tahap apresiasi. Untuk apresiasi puisi secara lebih mendalam, Anda bisa menggunakan tujuh aspek berikut ini. Agar lebih mudah mengapresiasi, setiap aspek akan dipandu beberapa pertanyaan. Berdasarkan 7 aspek di bawah ini, buatlah analisis mengenai puisi Acep. 1. Tema Menurut Anda, puisi tersebut mengandung tema apa? Jelaskan tema yang terdapat di dalam puisi itu Jelaskan pesan atau ide yang dinyatakan dalam puisi melalui tafsir Anda sebagai pembaca Bagaimana ide-ide diorganisasikan dalam puisi? Apakah berkembang secara langsung menuju kesimpulan?  2. Subjek lirik (pembicara di dalam puisi) Siapa pembicara di dalam puisi? Bagaimana nada bicara subjek lirik? Siapa yang diajak bicara di dalam puisi? Bagaimana sikap subjek lirik terhadap orang/sesuatu yang diajak bicara di dalam puisi? 3. Suasana Setelah membaca puisi, suasana seperti apa yang tergambar di dalam puisi?...

Melukis dengan Kata

Gambar
Pertemuan saya dengan puisi-puisi Acep Zamzam Noor belum terlalu lama. Memang beberapa tahun silam kumpulan puisinya sempat saya beli, tapi tidak secara langsung dibaca pada waktu itu. Kebetulan buku itu, Jalan Menuju Rumahmu , baru habis dibaca minggu yang lalu bersama mahasiswa saya di Universitas Nazan Nagoya, Jepang. Saya tidak yakin apakah 8 mahasiswa saya itu dapat menikmati puisi-puisi Acep, walau saya mencoba menjelaskan baris demi baris maupun kata demi kata. Saya tahu usaha mengapresiasi karya sastra itu tidak mudah. Terutama puisi, apalagi dalam bahasa asing. Mereka tidak hanya bergelut dengan bahasanya, tapi juga suasana dan lingkungan karya-karya itu. Dalam kuliah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia, saya mencoba mengajak mahasiswa, kebetulan kali ini semuanya perempuan, ke dalam dunia perpuisian Acep. Dalam usaha itu, saya menggambarkan alam Tatar Sunda, suasana Cipasung dan jalan hidup sang penyair, karena informasi sekitar puisi akan membantu pemahaman mer...

Puisi Acep Zamzam Noor

Gambar
Menjadi Penyair Lagi Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu Setiap menyaksikan iklan sabun, sampo, atau pasta gigi Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu Telah menjelmakan kata-kata juga Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecokelatan Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu Yang dulu kau...

Prolog untuk Memahami Puisi

Gambar
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa puisi adalah "mahkota bahasa". Artinya puisi bukan bahasa sehari-hari yang kita gunakan dalam komunikasi kepada orang lain, melainkan puncak dari pemakaian bahasa, bermain-main dengan bahasa, atau pemanfaatan bahasa dalam ragam tulisan sastra. Dalam puisi, penyair menggunakan bahasa sebagai "media" penyampaian kata-kata untuk audiens tertentu. Audiens di dalam puisi bisa siapa saja, bisa kepada orang (biasanya disebut "kau") atau tidak kepada siapa pun dan bersifat umum. Sering kali, membaca puisi menjadi perkara yang sulit karena kita mengalami kesukaran ketika memahami baris-baris puisi. Kendala itu bisa terjadi karena bahasa puisi berada di antara bahasa yang "mudah dipahami" sekaligus "sulit dipahami". Ada semacam dinding atau tembok penghalang yang menjadikan bahasa puisi begitu khas dan berbeda dari bahasa yang kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Ibarat dua buah lingkaran y...