Prolog untuk Memahami Puisi

Prolog untuk Memahami Puisi


Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa puisi adalah "mahkota bahasa". Artinya puisi bukan bahasa sehari-hari yang kita gunakan dalam komunikasi kepada orang lain, melainkan puncak dari pemakaian bahasa, bermain-main dengan bahasa, atau pemanfaatan bahasa dalam ragam tulisan sastra.

Dalam puisi, penyair menggunakan bahasa sebagai "media" penyampaian kata-kata untuk audiens tertentu. Audiens di dalam puisi bisa siapa saja, bisa kepada orang (biasanya disebut "kau") atau tidak kepada siapa pun dan bersifat umum.

Sering kali, membaca puisi menjadi perkara yang sulit karena kita mengalami kesukaran ketika memahami baris-baris puisi. Kendala itu bisa terjadi karena bahasa puisi berada di antara bahasa yang "mudah dipahami" sekaligus "sulit dipahami". Ada semacam dinding atau tembok penghalang yang menjadikan bahasa puisi begitu khas dan berbeda dari bahasa yang kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Ibarat dua buah lingkaran yang disatukan, maka puisi adalah "irisan" yang ada di tengahnya. Bahasa puisi menjadi bahasa yang "komunikatif" sekaligus "privat/pribadi".

Untuk itulah mengapa setiap kali sebuah puisi dibaca dan ditafsifrkan selalu memiliki perbedaan makna pada setiap pembaca. Hal ini tentu bisa terjadi karena "pengalaman" pribadi setiap orang berbeda sehingga hasil tafsir pada teks puisi pun berlainan.

Ada seorang penyair, Toto Sudarto Bachtiar, yang satu larik puisinya cukup mewakili kekayaan makna kata pada puisi:
Karena kata tak cukup buat berkata
Artinya, bisa saja kata-kata yang tertuang dalam puisi sebenarnya tidak cukup untuk mengeksplorasi pengalaman rohani si penyair. Atau kata-kata yang ada di puisi bisa memiliki makna yang berlapis-lapis daripada makna harfiahnya.

Sebagai makhkota bahasa, puisi termasuk jenis genre sastra yang banyak orang sering katakan sulit dipahami. Persoalan dalam memahami teks sastra merupakan sebuah pekerjaan membaca yang membutuhkan setidaknya dua hal: pengalaman membaca teks puisi dan kemampuan memahami bahasa-bahasa simbolik yang ada pada puisi.

Untuk yang kedua sebenarnya bisa kita terapkan langsung ketika kita membaca teks puisi dengan cara banyak berlatih. Kemampuan memahami bahasa simbolik dalam puisi bisa dilakukan jika kita mengetahui "alat kebahasaan" yang digunakan penyair dalam menuliskan puisinya.

Setiap penyair tentunya memiliki teknik dan cara yang berbeda-beda dalam mengolah alat bahasa dalam puisi-puisinya. Misalnya, Acep Zamzam Noor. Penyair yang tumbuh dan tinggal di lingkungan pesantren Cipasung ini telah berbiasa menulis puisi menggunakan personifikasi, metafora, bentuk puisi bebas yang cenderung naratif, dan simbol-simbol alam dalam puisinya. Salah satu petikan puisi yang menggambarkan unsur alam yang kuat, misalnya:
Seperti senja yang bersimpuh di kaki langit
Kupuja bola matamu yang melelehkan cahaya redup
Serta hurup-hurup samar yang menuliskan keabadian
Di tangan Acep, "senja" dapat bersimpuh di kaki langit, sebagaimana makhluk hidup. Penggunaan personifikasi demikian memang sangat kental di dalam puisi-puisi Acep. Begitu pun dalam larik kedua, Acep menggambarkan bagaimana bola mata bisa melelehkan cahaya. Ini merupakan gaya khas Acep ketika membuat puisi.

Memang selain menjadi penyair, Acep juga dikenal sebagai seorang pelukis. Ia tak hanya menggunakan kuas untuk melukis di kanvas, tetapi juga menggunakan hamburan kata-kata yang indah di atas kertas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Analisis Puisi

Melukis dengan Kata

Analisis puisi Lagu Malam Braga