Melukis dengan Kata
Saya tidak yakin apakah 8 mahasiswa saya itu dapat menikmati puisi-puisi Acep, walau saya mencoba menjelaskan baris demi baris maupun kata demi kata. Saya tahu usaha mengapresiasi karya sastra itu tidak mudah. Terutama puisi, apalagi dalam bahasa asing. Mereka tidak hanya bergelut dengan bahasanya, tapi juga suasana dan lingkungan karya-karya itu.
Dalam kuliah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia, saya mencoba mengajak mahasiswa, kebetulan kali ini semuanya perempuan, ke dalam dunia perpuisian Acep. Dalam usaha itu, saya menggambarkan alam Tatar Sunda, suasana Cipasung dan jalan hidup sang penyair, karena informasi sekitar puisi akan membantu pemahaman mereka.
Namun mungkin juga tidak perlu diberi informasi tentang sang penyair sendiri guna memahami dan mengapresiasi sebuah karya sastra, karena karyanya sendiri punya hak untuk diinterpretasi. Tak penting siapa yang menciptakan sebuah karya sastra. Tetapi kadang-kadang benar juga, ada baiknya untuk mengetahui siapa pengarangnya demi memahami karyanya lebih dalam.
Dengan kata lain, kita merasa lebih dekat dengan karya yang ada di hadapan kita melalui pendekatan ke penciptanya. Rupanya, itu berlaku pada mahasiswa saya: mereka ingin mengenal siapa Acep dan riwayat hidupnya.
Atas keinginan mahasiswa, dalam kuliah pertama, saya menceritakan perjalanan saya ke Cipasung dan pertemuan dengan Acep. Itu pas satu minggu setelah saya bertemu dengang orangnya, di rumahnya di Cipasung, untuk pertama kalinya. Sebagaimana yang saya gambarkan dalam kuliah itu, saya mau mengajak para pembaca buku ini juga ke rumah penyair di pegunungan Tasikmalaya.
Perjalanan dari Bandung ke Cipasung itu makan waktu kira-kira 3 jam, menelusuri jalan di tengah gunung dengan banyak tikungan. Semakin lama semakin dalam kita masuk ke lingkungan alam yang hijau dan bersih.
Tercium bau asli dedaunan dan pepohonan kalau jendela kendaraan dibuka. Waktu sopir taksi antar-jemput itu menghentikan mobilnya di suatu tempat istirahat, sudah saat magrib dan hari mulai gelap. Penumpang bersolat sekaligus makan di warung. Setengah jam lagi ke Singaparna, kota terdekat dari Cipasung, tempat sang penyair tinggal bersama keluarganya.
Tempat istirahat itu terletak di lereng gunung. Air di kamar mandi bersih dan dingin. Saya teringat suasana dan pemandangan itu ketika membaca puisi-puisi Acep. Walau mobil di jalan lalu lalang, masih terasa suasana alam yang berlainan dengan kata besar. Terbayang pula pada waktu itu bahwa seorang pengarang, terutama seorang penyair, mendapat inspirasi dalam perjalanan, yaitu petualangan badani menemukan petualangan rohani.
Acep menulis banyak puisinya dalam perjalanan. Rasanya saya pun terbawa menjadi penyair dalam petualangan yang jauh dari rumah.
Memasuki kota Singaparna, lampu-lampu rumah menerangi jalanan. Suasana selepas magrib membuat kita gembira. Suasana yang menyenangkan itu mencapai puncaknya ketika kita masuk wilayah Pondok Pesantren Cipasung. Silau mata oleh lampu-lampu di pinggir jalan. Berjubel siswa-siswi, para calon santri, di kiri kanan mobil tua yang kami tumpangi. Di depan asrama, di warung, di depan masjid penuh sesak remaja. Semua kelihatan senang dan santai. Terasa sejahtera dan tenteram.
Acep berada di dalam suasana ini. Kami sudah berada di tengah Pondok Pesantren Cipasung dan turun dari mobil pas di depan rumah kiai pemimpinnya, K.H. Moh. Ilyas Ruhiat. Suasana meriah dan ramai di situ tidak sama dengan suasana di daerah pertokoan atau mal-mal di kota.
Anak-anak muda betul-betul menikmati waktu santai bersama kawan-kawannya. Wajah mereka berseri-seri dan bersih polos. Rupanya, kota sudah kehilangan wajah anak-anak muda seperti itu. Kami bertanya kepada sekelompok santri di mana rumah Kang Acep.
Ternyata, kendaraan kami sudah melewatinya, tapi tidak jauh dari situ. Rumahnya masih di dalam kompleks pesantren. Di depan rumahnya terbentang sawah, di belakang rumahnya ada kolam ikan. Di halaman rumah ada panggung untuk serba kegiatan seni, misalnya pembacaan puisi, pentas teater, tari, musik, dan wayang. Katanya, beberapa bulan yang lalu kolaborasi wayang golek bersama musik nadom (sejenis musik Arab) dipertunjukkan di situ. Akhirnya saya sampai ke rumah sang penyair.
Selanjutnya, kepada para mahasiswa Jepang itu saya menceritakan kesan saya ketika bertemu dengan Acep di rumahnya. Mereka sangat tertarik untuk mengenal orangnya dan tutur katanya. Agaknya mereka berpikir bahwa mengetahui pencipta puisi akan membantu pemahaman atas puisi-puisi ciptaannya.
Saya tidak menyangkal pikiran mereka, tapi saya pun mengingatkan supaya mereka tidak lupa bahwasanya karya seni sendiri punya hak untuk diapresiasi. Malah karya yang baik dapat diapresiasi tanpa batas waktu, tanpa peduli siapa penciptanya dan di mana karya itu diciptakan.
Karya seni punya nilai universal. Saya pikir puisi-puisi Acep memiliki potensi untuk nilai universal seperti itu. Itu terbukti dalam 7 kali pertemuan di ruang kuliah di Nagoya. Melampaui jarak yang begitu jauh dari Tanah Sunda, puisi-puisi yang diciptakan tahun 80-an dibaca pada tahun 2006 di Jepang. Bahkan puisi-puisinya berhasil menggetarkan hati kaum remaja Jepang sampai mendirikan bulu kuduk, kalau meminjam ungkapan Acep sendiri.
Menerjemahkan karya seni adalah suatu cara untuk memahami secara dekat dan dalam. Menerjemahkan itu tidak semata-mata memindahkan kata atau baris dari satu bahasa ke bahasa lain. Kita tidak bisa menerjemahkan tanpa mencapai suatu interpretasi karya seni secara keseluruhan.
Membaca seluruh puisi lagi dan lagi, lalu kembali ke satu kata yang belum jelas untuk mencari makna dalam puisi itu. Misalkan, jangan sampai memandang satu pohon tanpa melihat hutan secara keseluruhan. Kita harus mencoba melihat seluruh hutan sebelum memasuki hutan itu agar tidak tersesat di dalamnya.
Metode tersebut dapat diterapkan pada apresiasi puisi. Pada setiap pertemuan, mahasiswa membawa terjemahan mereka masing-masing dalam bahasa Jepang ke ruang kuliah, sekaligus terjemahan saya muatkan di website agar kawan-kawannya bisa melihatnya lebih dulu.
Dalam kuliah saya minta mahasiswa untuk terlebih dahulu membacakan puisi aslinya bersuara, disusul pembacaan terjemahannya. Kita menikmati bunyi bahasa Indonesianya dan terjemahan bahasa Jepangnya bersama-sama.
Sewaktu-waktu, terjemahan mereka mengharukan kalau mereka berhasil memahami puisi Acep dengan baik dan mengekspresikan interpretasinya dalam bahasa Jepang. Dalam arti tertentu, terjemahan boleh dianggap suatu rekreasi karya seni. Tetapi sebagai kenyataan tidak semua karya sastra patut diterjemahkan ke bahasa lain. Hanya yang mengandung nilai seni yang tinggi dapat dinikmati dalam penerjemahan.
Puisi-puisi Acep dapat diapresiasi oleh siapa pun juga dan di mana pun juga karena mengandung nilai universal. Malahan terjemahannya mempunyai kemungkinan untuk melahirkan puisi baru yang bernilai seni tinggi.
Puisi-puisi Acep mempunyai beberapa leitmotiv, atau unsur dasar yang mengalir dalam perpuisiannya. Misalnya, ada image bahwa puisi lahir dari tubuh penyair sebagai anaknya sendiri. Dia harus menunggu saat kelahirannya dengan sabar, dan begitu lahir anak baru itu menjadi buah hatinya seperti anaknya sendiri.
Ketulusan terhadap Tuhan dan tema lain pun merupakan salah satu leitmotiv yang sering terdapat dalam puisinya. Kumpulan puisi di depan mata pembaca sekarang ini adalah kumpulan puisi kedelapan. Buku ini punya corak khusus, yaitu puisi-puisi yang bertema cinta. Romantis!
Saya sendiri suka puisi-puisi cinta Acep, terutama puisi yang mengandung rasa sayangnya kepada seorang kekasih. Rasa cinta atau rasa sayang tidak langsung diekspresikan, tapi ditahan dan dikiaskan. Mungkin juga karena memiliki kesamaan dengan nilai Jepang tradisional yang di saat ini pun masih saya anggap bagus.
Di antara puisi-puisi yang terkumpul di sini, saya menyukai beberapa puisi lebih dari yang lain. Misalnya, Prelude karena komposisi yang simetris dan pemilihan kata yang sederhana tapi indah. Juga kita menunjukkan leitmotiv yang lain dalam karyanya, yaitu pengembaraan jiwa, suasana jiwa penyair.
Puisi lain yang saya sukai adalah Kesedihan karena ritmenya. Puisi itu lebih nikmat kalau dibaca bersuara. Sedangkan puisi berjudul Kenangan, salah satu favorit saya, ketika dibaca, kita akan melihat suatu lukisan. Bahkan kata "melukis" pun dipakai pada baris pertama. Diksinya semata-mata merupakan sebuah lukisan di atas kanvas.
Acep memang pelukis yang ternama juga. Dia tidak hanya melukis di atas kanvas dengan cat minyak, tapi juga melukis dengan kata. Selamat menikmati puisi-puisi cinta Acep Zamzam Noor.
Dr. Mikihiro Moriyama
Guru besar pada Departemen of Asian Studies, Nanzan University, Nagoya, Jepang
*Catatan: esai pendek ini ditulis dalam kata pengantar buku kumpulan puisi Acep yang berjudul Menjadi Penyair Lagi.
Saya tidak menyangkal pikiran mereka, tapi saya pun mengingatkan supaya mereka tidak lupa bahwasanya karya seni sendiri punya hak untuk diapresiasi. Malah karya yang baik dapat diapresiasi tanpa batas waktu, tanpa peduli siapa penciptanya dan di mana karya itu diciptakan.
Karya seni punya nilai universal. Saya pikir puisi-puisi Acep memiliki potensi untuk nilai universal seperti itu. Itu terbukti dalam 7 kali pertemuan di ruang kuliah di Nagoya. Melampaui jarak yang begitu jauh dari Tanah Sunda, puisi-puisi yang diciptakan tahun 80-an dibaca pada tahun 2006 di Jepang. Bahkan puisi-puisinya berhasil menggetarkan hati kaum remaja Jepang sampai mendirikan bulu kuduk, kalau meminjam ungkapan Acep sendiri.
Menerjemahkan karya seni adalah suatu cara untuk memahami secara dekat dan dalam. Menerjemahkan itu tidak semata-mata memindahkan kata atau baris dari satu bahasa ke bahasa lain. Kita tidak bisa menerjemahkan tanpa mencapai suatu interpretasi karya seni secara keseluruhan.
Membaca seluruh puisi lagi dan lagi, lalu kembali ke satu kata yang belum jelas untuk mencari makna dalam puisi itu. Misalkan, jangan sampai memandang satu pohon tanpa melihat hutan secara keseluruhan. Kita harus mencoba melihat seluruh hutan sebelum memasuki hutan itu agar tidak tersesat di dalamnya.
Metode tersebut dapat diterapkan pada apresiasi puisi. Pada setiap pertemuan, mahasiswa membawa terjemahan mereka masing-masing dalam bahasa Jepang ke ruang kuliah, sekaligus terjemahan saya muatkan di website agar kawan-kawannya bisa melihatnya lebih dulu.
Dalam kuliah saya minta mahasiswa untuk terlebih dahulu membacakan puisi aslinya bersuara, disusul pembacaan terjemahannya. Kita menikmati bunyi bahasa Indonesianya dan terjemahan bahasa Jepangnya bersama-sama.
Sewaktu-waktu, terjemahan mereka mengharukan kalau mereka berhasil memahami puisi Acep dengan baik dan mengekspresikan interpretasinya dalam bahasa Jepang. Dalam arti tertentu, terjemahan boleh dianggap suatu rekreasi karya seni. Tetapi sebagai kenyataan tidak semua karya sastra patut diterjemahkan ke bahasa lain. Hanya yang mengandung nilai seni yang tinggi dapat dinikmati dalam penerjemahan.
Puisi-puisi Acep dapat diapresiasi oleh siapa pun juga dan di mana pun juga karena mengandung nilai universal. Malahan terjemahannya mempunyai kemungkinan untuk melahirkan puisi baru yang bernilai seni tinggi.
Puisi-puisi Acep mempunyai beberapa leitmotiv, atau unsur dasar yang mengalir dalam perpuisiannya. Misalnya, ada image bahwa puisi lahir dari tubuh penyair sebagai anaknya sendiri. Dia harus menunggu saat kelahirannya dengan sabar, dan begitu lahir anak baru itu menjadi buah hatinya seperti anaknya sendiri.
Ketulusan terhadap Tuhan dan tema lain pun merupakan salah satu leitmotiv yang sering terdapat dalam puisinya. Kumpulan puisi di depan mata pembaca sekarang ini adalah kumpulan puisi kedelapan. Buku ini punya corak khusus, yaitu puisi-puisi yang bertema cinta. Romantis!
Saya sendiri suka puisi-puisi cinta Acep, terutama puisi yang mengandung rasa sayangnya kepada seorang kekasih. Rasa cinta atau rasa sayang tidak langsung diekspresikan, tapi ditahan dan dikiaskan. Mungkin juga karena memiliki kesamaan dengan nilai Jepang tradisional yang di saat ini pun masih saya anggap bagus.
Di antara puisi-puisi yang terkumpul di sini, saya menyukai beberapa puisi lebih dari yang lain. Misalnya, Prelude karena komposisi yang simetris dan pemilihan kata yang sederhana tapi indah. Juga kita menunjukkan leitmotiv yang lain dalam karyanya, yaitu pengembaraan jiwa, suasana jiwa penyair.
Puisi lain yang saya sukai adalah Kesedihan karena ritmenya. Puisi itu lebih nikmat kalau dibaca bersuara. Sedangkan puisi berjudul Kenangan, salah satu favorit saya, ketika dibaca, kita akan melihat suatu lukisan. Bahkan kata "melukis" pun dipakai pada baris pertama. Diksinya semata-mata merupakan sebuah lukisan di atas kanvas.
Acep memang pelukis yang ternama juga. Dia tidak hanya melukis di atas kanvas dengan cat minyak, tapi juga melukis dengan kata. Selamat menikmati puisi-puisi cinta Acep Zamzam Noor.
Dr. Mikihiro Moriyama
Guru besar pada Departemen of Asian Studies, Nanzan University, Nagoya, Jepang
*Catatan: esai pendek ini ditulis dalam kata pengantar buku kumpulan puisi Acep yang berjudul Menjadi Penyair Lagi.

Komentar
Posting Komentar