Melukis dengan Kata
Pertemuan saya dengan puisi-puisi Acep Zamzam Noor belum terlalu lama. Memang beberapa tahun silam kumpulan puisinya sempat saya beli, tapi tidak secara langsung dibaca pada waktu itu. Kebetulan buku itu, Jalan Menuju Rumahmu , baru habis dibaca minggu yang lalu bersama mahasiswa saya di Universitas Nazan Nagoya, Jepang. Saya tidak yakin apakah 8 mahasiswa saya itu dapat menikmati puisi-puisi Acep, walau saya mencoba menjelaskan baris demi baris maupun kata demi kata. Saya tahu usaha mengapresiasi karya sastra itu tidak mudah. Terutama puisi, apalagi dalam bahasa asing. Mereka tidak hanya bergelut dengan bahasanya, tapi juga suasana dan lingkungan karya-karya itu. Dalam kuliah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia, saya mencoba mengajak mahasiswa, kebetulan kali ini semuanya perempuan, ke dalam dunia perpuisian Acep. Dalam usaha itu, saya menggambarkan alam Tatar Sunda, suasana Cipasung dan jalan hidup sang penyair, karena informasi sekitar puisi akan membantu pemahaman mer...