Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Melukis dengan Kata

Gambar
Pertemuan saya dengan puisi-puisi Acep Zamzam Noor belum terlalu lama. Memang beberapa tahun silam kumpulan puisinya sempat saya beli, tapi tidak secara langsung dibaca pada waktu itu. Kebetulan buku itu, Jalan Menuju Rumahmu , baru habis dibaca minggu yang lalu bersama mahasiswa saya di Universitas Nazan Nagoya, Jepang. Saya tidak yakin apakah 8 mahasiswa saya itu dapat menikmati puisi-puisi Acep, walau saya mencoba menjelaskan baris demi baris maupun kata demi kata. Saya tahu usaha mengapresiasi karya sastra itu tidak mudah. Terutama puisi, apalagi dalam bahasa asing. Mereka tidak hanya bergelut dengan bahasanya, tapi juga suasana dan lingkungan karya-karya itu. Dalam kuliah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia, saya mencoba mengajak mahasiswa, kebetulan kali ini semuanya perempuan, ke dalam dunia perpuisian Acep. Dalam usaha itu, saya menggambarkan alam Tatar Sunda, suasana Cipasung dan jalan hidup sang penyair, karena informasi sekitar puisi akan membantu pemahaman mer...

Puisi Acep Zamzam Noor

Gambar
Menjadi Penyair Lagi Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu Setiap menyaksikan iklan sabun, sampo, atau pasta gigi Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu Telah menjelmakan kata-kata juga Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecokelatan Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu Yang dulu kau...

Prolog untuk Memahami Puisi

Gambar
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa puisi adalah "mahkota bahasa". Artinya puisi bukan bahasa sehari-hari yang kita gunakan dalam komunikasi kepada orang lain, melainkan puncak dari pemakaian bahasa, bermain-main dengan bahasa, atau pemanfaatan bahasa dalam ragam tulisan sastra. Dalam puisi, penyair menggunakan bahasa sebagai "media" penyampaian kata-kata untuk audiens tertentu. Audiens di dalam puisi bisa siapa saja, bisa kepada orang (biasanya disebut "kau") atau tidak kepada siapa pun dan bersifat umum. Sering kali, membaca puisi menjadi perkara yang sulit karena kita mengalami kesukaran ketika memahami baris-baris puisi. Kendala itu bisa terjadi karena bahasa puisi berada di antara bahasa yang "mudah dipahami" sekaligus "sulit dipahami". Ada semacam dinding atau tembok penghalang yang menjadikan bahasa puisi begitu khas dan berbeda dari bahasa yang kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Ibarat dua buah lingkaran y...